Surabaya – Seorang penjual tas tetap bertahan diĀ areal Pasar Keputran, Surabaya, Jawa Timur, meskipun dari tahun ke tahun pendapatannya terus mengalami penurunan.
“Saat masih kecil dulu, dalam sehari ibu saya bisa membawa pulang uang hingga satu kresek (tas plastik). Kalau nggak salah ingat, nilainya bisa mencapai satu juta rupiah,” kata Alim, penjual tas di Pasar Keputran, mengingat masa lalunya, Kamis (14/8).
Kegemilangan yang dialami Nurianingsih, ibu Alim, yang membesarkan Toko Pojok di sudut Pasar Keputran itu kini tampaknya tinggal cerita. “Sekarang dapat seratus ribu sehari saja sudah bagus. Orang-orang sekarang kalau beli tas, pergi ke mal atau malah ke Tanggulangin (Sidoarjo),” katanya menuturkan.
Menurut dia, dulu banyak sekali toko-toko yang menjual berbagai macam jenis tas. Namun sekarang, toko-toko itu telah beralih fungsi sebagai tempat menjual pulsa isi ulang, pedagang daging, hingga aneka macam makanan dan minuman.
Toko Pojok menjadi satu-satunya toko yang masih menjual tas dan barang-barang lainnya termasuk sepatu boot yang biasa digunakan oleh para pedagang dan buruh angkut di pasar tradisional yang berada di tengah “Kota Pahlawan” itu.
“Mungkin kalau menjual tas saja, sudah dari dulu toko ini tutup. Apalagi tas hanya laku pada saat tahun ajaran baru dan mendekati lebaran,” katanya.
Oleh karena itu dia juga menjual barang lain, terutama sepatu boot agar bisa mengangkat omzet penjualan di toko itu. Selama ini sepatu boot banyak dibutuhkan pedagang dan beberapa kaum pendatang lainnya karena pasar itu menjadi becek ketika musim hujan. “Sedang tas, tetap saja laku, terutama tas pinggang sering dibutuhkan para pedagang di pasar ini untuk menyimpan uang,” katanya.
Untuk tas pinggang, Alim menjualnya dengan harga antara Rp25.000 hingga 65.000 per buah. Selain tas pinggang, di Toko Pojok juga dipajang tas ransel untuk anak sekolah. “Saya menginginkan mendapatkan uang satu kantung plastik uang seperti dulu lagi,” katanya.(irfan)