“Jangankan ke Taman, Cari Beras Saja Susah”

SURABAYA – Seorang wanita tua masih terengah-engah setelah melakukan perjalanan menjunjung karung berasnya. Usianya 60 tahun, Sartini namanya. Dia bekerja paruh waktu sebagai pedagang beras keliling di Pasar Keputran Surabaya.

Sejenak surabayapark.com ingin tahu, sudahkah Sartini dan pedagang-pedagang lainnya di Pasar Keputran menikmati fasilitas pertamanan di Surabaya?

“Taman? Jangankan ke taman, cari beras untuk makan saja susah,” keluh Sartini. Aneh memang, seorang pedagang beras malah jarang menikmati beras untuk dimakan. Begitulah yang dialami Sartini, meskipun setiap harinya dia bergelut dengan beras, tapi tak setiap hari dia dan keluarganya kenyang.

“Bagaimana kami bisa berekreasi kalau setiap hari harus kerja keras membanting tulang seperti sekarang,” imbuh nenek dengan dua cucu ini. Sartini memang berdagang beras, tapi bukan tengkulak besar, dia hanya menyortir sekilo-dua kilo beras untuk dijual kembali.

Meski harga beras relatif stabil, yakni 5-6 ribu rupiah per kilogram, toh untung penjualan Sartini yang 3 ribu rupiah per harinya tak bisa memenuhi kebutuhan perut keluarganya.

“Saat ini mungkin ada puluhan orang yang menjadi pedagang kecil-kecilan di Pasar Keputran. Mereka harus bertahan dari 345 lapak pedagang sedang dan besar di Pasar Keputran,” jelas Yanuarti Istiafarida, Humas Perusahaan Daerah (P.D.) Pasar Surya yang mengelola Pasar Keputran. Jadi bisa dibayangkan, betapa keras perjuangan Sartini.

Namun, Sartini senang mendengar kabar ada fasilitas pertamanan yang indah di Surabaya. “Senang Mas, tapi kapan kami bisa ke sana, meskipun gratis tetap saja kami butuh waktu dan biaya untuk ke sana,” tutup Sartini mengakhiri pembicaraan.

Say your words